Membangun Kampung Wisata Kota Bogor

Selat Bosphorus sebagai kawasan wisata Istanbul
Selat Bosphorus sebagai kawasan wisata Kota Istanbul, Turki

Geliat pembangunan yang begitu intens di lokasi-lokasi strategis seperti Tugu Kujang, Kebun Raya, Lapangan Sempur, dan taman-taman indah nampak kontras dengan tiadanya pembangunan yang mendasar di kawasan padat penduduk ini. Padahal, lokasinya tak jauh dan hanya berbilang ratusan meter. Bahkan, kawasan itu juga begitu dekat dengan Istana Kepresidenan Bogor. Kawasan itu ada di jantung Kota. Kampung itu adalah Babakan Pasar, Paledang, Panaragan, Kebon Kalapa, dan Sempur.

Setelah hampir 1,5 tahun vakum menulis dan tidak ada posting tulisan di blog ini, alhamdulillah Penulis diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk mengaktifkan lagi jari-jari yang sudah kaku ini dengan adanya ‘delay’ pesawat surabaya ke banyuwangi. Ditengah cerahnya Surabaya, waktu selama 8 jam terasa lebih bermakna dengan menuliskan ide tentang pembangunan sudut Kota Bogor, kota hujan yang menjadi tempat tinggal selama 20 tahun terakhir.

Sambil ditemani cappucino yang berganti espresso dan terakhir kopi hitam gayo, mudah-mudahan ide ini bisa menjadi lebih sempurna di eksekusi oleh para pemangku kebijakan di kota-kota besar,  wabil khusus Kota Bogor yang menjadi tempat tinggal Penulis.

Surabaya dan Bogor Kota. Hmmm….. entah suatu kebetulan atau tidak, kehangatan dua kota yang begitu monumental itu kembali terasa siang hari ini. Medio 2015 lalu, dua kota ini menginspirasi lahirnya artikel “Antara Kota Bogor dan Surabaya” http://atangtrisnanto.com/2015/04/27/artikel/antara-bogor-dan-surabaya/. Jika Kota Surabaya yang jauh lebih besar dan kompleks permasalahannya saja bisa sedikit demi sedikit diperbaiki oleh tangan dingin Walikota Risma, maka Kota Bogor pun juga seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Bahkan bisa lebih.

Paradoks Pembangunan Kota

Sebagai warga Kota Bogor, kita semua rasanya sudah sering berkunjung ke kawasan padat penduduk di Kota Bogor. Kawasan yang menjadi jantung kota dan menjadi saksi bisu pertumbuhan Kota Hujan dari masa ke masa. Geliat pembangunan yang begitu intens di lokasi-lokasi strategis seperti Tugu Kujang, Kebun Raya, Lapangan Sempur, dan taman-taman indah nampak kontras dengan tiadanya pembangunan yang mendasar di kawasan padat penduduk ini. Padahal, lokasinya tak jauh dan hanya berbilang ratusan meter. Bahkan, kawasan itu juga begitu dekat dengan Istana Kepresidenan Bogor. Kawasan itu ada di jantung Kota. Kampung itu adalah Babakan Pasar, Paledang, Panaragan, Kebon Kalapa, dan Sempur.

Di sisi lain, pembangunan beton yang melibatkan pemilik kapital besar (konglomerat) terus melaju. Bangunan-bangunan (pusat perbelanjaan, mall, ruko, pertokoan) baru tersebut semakin mengangkangi tiap jengkal lahan dan wilayah-wilayah Kota Hujan dari ujung timur sampai ujung barat dan dari ujung utara sampai ujung selatan. Sebagian malah dibangun di wilayah DAS (daerah aliran sungai) yang seharusnya steril dari bangunan. Lihat atangtrisnanto.com2015/04/07/artikel/merancang-bencana-kota-bogor/

Lantas, pembangunan yang dilaksanakan selama ini kira-kira ditujukan untuk siapa? Siapa yang merasakan manfaatnya? Apakah betul bahwa pembangunan-pembangunan tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menaikkan pertumbuhan ekonomi? Dapat dirasakan manfaat ekonominya secara merata oleh seluruh warga? Hal ini akan kita bahas lebih mendalam pada artikel berikutnya.

Pembangunan atau Penertiban?

Jika melihat betapa rapatnya kawasan permukiman ditengah Kota Bogor yang rata-rata juga berada di wilayah areal konservasi, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah “Bagaimana solusinya”? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Apakah pilihannya adalah penggusuran seperti yang dilakukan oleh DKI Jakarta dalam dua tahun terakhir? Membiarkan saja apa adanya, atau ada pilihan baik yang lain? Pilihan yang dilematis memang. Namun, bukan berarti tidak ada satupun jalan keluar bukan?

Melihat kompleksitas masalah sosial, politik, dan kultural yang ada, pilihan penggusuran bukanlah pilihan yang bijak. Masih ada ruang kebijakan lain yang bisa diambil dan menjadi win-win solution bagi semua. Ruang lain tersebut adalah dengan menata kembali wilayah eksisting (kawasan perumahan rapat penduduk) menjadi lebih ekologis dan bernilai strategis. Jadikan kampung rapat penduduk itu sebagai Kampung Wisata Kota Bogor.

Kampung Wisata Kota Bogor : Mimpi atau Realita?

Seperti quote awal tulisan ini, masalah kumuhnya kawasan urban jangan dipandang sebagai ketidakberuntungan. Kompleksnya masalah kampung perkotaan tidak boleh dihindari, sebaliknya harus dihadapi. Diam tidak menyelesaikan masalah. Harus ada tekad dan ikhtiar untuk membuat ketidakberuntungan menjadi hikmah.

Kampung Wisata Kota Bogor akan menjadi ikon yang sangat positif. Dan penulis yakin, efek positifnya akan jauh lebih besar dan lebih banyak dibanding pembangunan taman-taman dan Lawang Salapan. Lantas, bagaimana cara membangunnya?

Pertama, kumpulkan ahli tata kota, tata permukiman, dan desain tempat tinggal untuk mengkonsep masing-masing perkampungan dengan pendekatan yang berbeda setiap kampungnya. Kampung Lebak Kantin tentu ada perbedaan dengan Kampung Lebak Pasar. Begitu juga dengan kampung-kampung yang lain. Untuk itu, perlu pendekatan Kampung yang berbentuk Kampung Wisata Sehat, Kampung Wisata Religi, Kampung Wisata Sosial, Kampung Wisata Kuliner, dan Kampung Wisata yang lain.

Kedua, keruk pendangkalan sungai. Hasil lumpurnya bisa dibuat media bibit tanaman yang dibudidayakan oleh masyarakat sekitar. Bibitnya ditanam di lahan-lahan yang kosong dan strategis. Buatlah taman kampung, yang di inspirasi oleh keberadaan Taman Kota. Sehingga, rakyat kebanyakan bisa langsung merasakan keberadaan taman yang ada di sekitar mereka.

Ketiga, perbaiki bangunan fisik seperti tanggul dan jembatan sungai. Sediakan banyak MCK umum yang bersih dan indah. Perbaiki dan perbagus sarana-sarana ibadah seperti masjid atau musholla agar wisatawan tak lupa untuk menunaikan kewajibannya. Dan tak lupa, desain warna kampung dengan cat-cat ikonik dan inovatif seperti halnya Kampung Blimbing di Malang. Atau Kampung Kalilo di Banyuwangi.

Wajah bantaran Kalilo Banyuwangi (sumber : banyuwangibagus.com dan instarix.com
Wajah bantaran Kalilo Banyuwangi (sumber : banyuwangibagus.com dan instarix.com

Keempat, galakkan hidup sehat dengan konsep hidup bersih dan pengelolaan sampah terpadu. Sudah cukup banyak kisah sukses di Kota Bogor tentang pengelolaan sampah rumah tangga. Dan Pemerintah Kota pun juga turut andil dalam kesuksesan itu. Saatnya untuk mengulang kisah sukses itu di Kampung Wisata Kota Bogor.

Kelima, galakkan industri inovatif rumah tangga baik yang berbasis kuliner, kerajinan tangan, budaya maupun komunitas. Hal ini nantinya akan menjadi penyangga wisata tour dari Kampung Wisata tersebut. Multiplier effectnya adalah peningkatan ekonomi masyarakat. Warga Bogor yang selama ini hanya menikmati kemacetan saja saat wisatawan masuk Bogor tiap hari Sabtu Minggu, harus turut menikmati kue geliat wisatanya.

Keenam, buat paket wisata yang di endorse oleh Pemerintah Kota sebagai paket Wisata Tour Kampung Wisata Kota Bogor. Berwisata sambil menjaga kebugaran, menjaga kepekaan sosial, dan membangun kebersamaan. Hidupkan BUMD seperti PDJT yang nampak hidup segan mati tak mau untuk oleh peluang pasar ini.

Meskipun tidak terlalu teknis dan detail, uraian ide diatas sudah cukup menjadi pijakan awal. Detail itu ada pada teknokrat. Sedangkan bagi pemimpin, yang mahal adalah ide besarnya. Dengan semangat kesetaraan dan kebersamaan, penulis yakin seluruh komponen pemangku kebijakan akan membuat Kota Bogor semakin keren dengan ide-ide keren dan eksekusi kebijakan yang keren pula.

Kalaupun tak ada yang mau melakukan saat ini, semoga Allah berikan pemimpin masa depan yang memiliki kemampuan mewujudkan ide-ide keren. Karena, pemimpin keren adalah pemimpin yang dapat menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang. Andakah itu? Waktu yang akan menjawabnya…dengan seijin Allah SWT tentunya….

#bogormaju #bogorkahiji #bogorkeren #welovebogor

3 thoughts on “Membangun Kampung Wisata Kota Bogor”

  1. Oleh karenanya, gerakan pembangunan dan aktivitas pariwisata alam Indonesia harus dilakukan oleh masyarakat pemilik budaya, pemilik kearifan lokal dan masyarakat pemilik keramah tamahan. Membangun pariwisata Indonesia dari Desa Wisata dengan mengusung prinsip segitiga wisata ramah adalah keniscayaan untuk keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

  2. asyik banget tulisan nya.. mengalir, renyah, dan orisinil

    berharap kota bogor lebih baik
    bogor kahiji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *