Dahsyatnya Cinta

20140506_183802
Cinta adalah kata yang tak pernah kehabisan cerita. Bicara tentang cinta, bicara tentang hati. Bicara tentang cinta, bicara tentang jiwa. Saking dahsyatnya kata cinta, seseorang  bisa menjadi lemah karenanya. Namun karena dahsyatnya cinta pula, membuat seseorang begitu kuat dan perkasa. Maka tak heran, bila seorang Jamal Mirdad pernah melantunkan syair lagu “Kalau Cinta Sudah Melekat, Gula Jawa Rasa Cokelat”. Sering terkesan slapstick memang, tapi suka ataupun tidak suka, begitulah Cinta…..

Disadari atau tidak, cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Mau diakui atau tidak, cinta memiliki daya pendorong yang begitu dahsyat. Seseorang akan terlecut semangatnya, ketika melakukan sesuatu atas dasar cinta. Begitu juga sebaliknya, seseorang akan tidak bergerak sama sekali,  jika tiada cinta di dalam hatinya.

Bicara tentang kekuatan cinta,  suatu pagi di medio Oktober kembali menggoreskan kisahnya.  Pagi itu, jarum jam di arloji sudah mendekati  angka 10. Beberapa tugas hari ini memaksa diri harus meninggalkan rumah pagi-pagi sekali. Tak sempat sarapan, tak sempat mengatarkan anak-anak ke sekolah. Setelah menyelesaikan dua urusan yang membuat hati tenang,  masuklah kuda besi ini di pintu tol Bogor Jagorawi arah Jakarta.  Setelah beberapa kilometer melaju, kemudi  tak kuasa mengarah ke rest area di bilangan Tanah Baru – Bogor Utara.

Setelah memarkir kendaraan pas pada posisinya, terbukalah bungkusan plastik putih yang disiapkan oleh istriku pagi tadi.  Ada satu tupperware berisi nasi plus telor dadar dan sambal. Dan satu tupperware lagi berisi sayuran, dan di sebelahnya terbungkus tisu dengan rapi, sepasang sendok dan garpu yang fungsinya demikian sulit untuk dipisahkan. Meskipun sederhana, namun sarapan pagi ini terasa begitu berbeda. Berbeda jika dibandingkan ketika menyantap masakan penuh menu menggoda di restoran padang ataupun warung makan yang lainnya. Ada cinta di setiap suapannya. Ada cinta di setiap potongan nasi dan lauknya. Dan hati inipun begitu terimpresi demikian kuatnya.

Karena begitu dalam kesannya, maka kepuasannya pun juga berbeda. Sarapan sederhana, tapi menginspirasi luar biasa pada semangat dan motivasi pada detik-detik setelahnya. Ada kekuatan yang terasa tak pernah habis ketika menjejaki kilometer demi kilometer perjuangan di hari itu. Sejenak diri ini merenung, begitu kuatkah Cinta?

Dahsyatnya Cinta yang Agung

Dalam satu kisah, sahabat Bilal bin Rabah membuktikan kekuatan cinta yang ia berikan kepada Allah dan Rasulullah SAW.  Suatu waktu Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad….” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun berkata sama.  Ketika mereka memaksa agar Bilal memuji Latta dan Uzza, Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.”  Begitulah cinta…

Cinta juga nampak begitu agung pada kisah Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda tampan dan kaya raya. Karena cintanya pada Allah dan Rasulullah SAW, dia rela meninggalkan segala kenikmatan dunia yang ada di genggamannya. Terusir dari keluarga, terusir dari tanah kelahirannya. Perjalanan perjuangan yang begitu jauh dan berat ia lalui dengan begitu mempesona. Tengoklah ketika ajal menjemputnya. Kekuatan cinta agung itu mengantarkannya pada akhir kehidupan yang begitu mulia.

Pada perang Uhud, Mush’ab bin Umair mendapat tugas membawa bendera pasukan. Ia gamit bendera itu dengan tangan kanannya. Salah satu prajurit berkuda musuh, Ibnu Qumai-ah al-Laitsi, menebas tangan kanannya. Mush’ab tak menyerah, ia lantas membawa bendera dengan tangan kirinya.   Ibnu Qumai-ah kembali menebas tangan kiri Mush’ab, tapi ia tetap tidak menyerah. Ia dekap bendera pasukan dengan dadanya. Hingga akhirnya, panah pun mengakhiri kegigihan perjuangan seorang Mush’ab bin Umair.

Usai peperangan, Rasulullah menghampiri jenazah Mush’ab dan beliau berkata “Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut dan (pakaianmu) kain burdah.” Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi jasadnya kecuali sehelai burdah. Andai kain itu ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya. Ya Rabbana, begitulah mulianya Cinta….

Cinta seringkali menghampiri kita… Cinta jualah yang memberi inspirasi dan kekuatan yang luar biasa. Cinta yang benar adalah cinta yang ketika kita merasakannya, akan terasa ketenangan dan kepuasaan batin yang tak terhitung nilainya. Cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Membuat sepasang bahu lemah seorang wanita begitu kuat mengalahkan kekarnya bahu seorang pria.

Maka, bagi yang belum menikah. Segeralah menikah menjemput cinta yang membuat jiwamu tenang. Yang merasa berat ketika menyusuri jalan perjuangan, benahi dulu cintamu, maka ia akan membuatmu memberikan segalanya pada jalan perjuangan. Siramilah cinta, maka ia akan memberimu sebuah kebahagiaan. Seperti bunga cinta pagi ini, yang tersiram penuh mesra dengan sarapan cinta yang begitu luar biasa….

Lamat-lamat, melantunlah sebuah lagu yang membuat hati ini semakin cinta akan jalan-Nya…

menapaki langkah-langkah berduri………
menyusuri rawa, lembah dan hutan………
berjalan diantara tebing jurang………
smua dilalui demi perjuangan……..

letih tubuh di dalam perjalanan……..
saat hujan dan badai merasuki badan……..
namun jiwa harus terus bertahan……..
karna perjalanan masih panjang…….

kami adalah tentara Allah, siap melangkah menuju ke medan juang……
walau tertatih kaki ini berjalan….
jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan….

wahai tentara Allah bertahanlah,
jangan menangis walau jasadmu terluka….
sebelum engkau bergelar syuhada…..
tetaplah bertahan dan bersiap siagalah……

2 thoughts on “Dahsyatnya Cinta”

  1. Luar biasa mas…. terima kasih atas sharing indahnya merayakan cinta…
    Hmmm…….. jd bikin tambah ngelamun merindukan bidadari….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *