Profil

ATANG TRISNANTO, S.Hut, M.Si
ATANG TRISNANTO, S.Hut, M.Si

Atang Trisnanto lahir 15 Nopember 1978 di sebuah desa, di bawah kaki Gunung Raung, Banyuwangi, Jawa Timur. Ayahnya, Supeno Effendi seorang petani yang tegas dalam mendidik anak. Sementara sang ibu, Musiyah, pedagang sembako kecil, mendidiknya dengan kelembutan dan kesabaran.

Masa kecil hingga SMA dihabiskan bungsu dari tiga bersaudara ini di Banyuwangi. Pendidikan TK dan SD dijalaninya di TK Agung Wilis Gendoh dan SDN Kemiri III. Ia mengisi masa kecilnya dengan permainan tradisional alam pedesaan dan damainya suasana surau kampung.

Lulus SD ia melanjutkan pendidikan ke SMPN I Genteng-Banyuwangi pada tahun 1991-1994. Kemudian lanjut ke SMA Negeri I Genteng, Banyuwangi.

Prestasi akademik selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMA membawanya ke Institut Pertanian Bogor (IPB) tanpa melalui jalur tes. Ia masuk perguruan tinggi negeri bergengsi itu  pada 1997.

Tradisi prestasi yang sejak SD digengamnya terus dilanjutkan. Ia meraih gelar Sarjana Kehutanan dalam bidang keahlian Biometrika Hutan dengan IPK 3.40. Pada tahun 2015 berhasil meraih gelar Master Sains dari Magister Ilmu Ekonomi IPB. Tak berhenti di situ, angkatan 34 IPB ini lantas melanjutkan pendidikan Doktoral pada Program Studi S3 Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan IPB pada tahun 2017.

Kehidupan masa kecil di pedesaan dengan segala kesederhanaan dan keterbatasan, membuat penggemar sepak bola dan bulu tangkis ini terpacu untuk memberikan kontribusi positf bagi lingkungannya. Menurutnya, keberhasilan seseorang bisa diukur dari sejauhmana nilai manfaat keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Karenanya tak heran bila begitu banyak organisasi dan kegiatan sosial lingkungan yang ia geluti. Selama kuliah di kampus rakyat IPB, rimbawan muda ini sangat aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, pengabdian masyarakat, pelestarian lingkungan, dan kegiatan keislaman.

Saat krisis ekonomi 1998, anak petani ini turut aktif dalam aksi reformasi 98 di tahun pertama masa kuliahnya. Kurun waktu tahun 2001-2002,  Mahasiswa Berprestasi Fakultas Kehutanan IPB ini terpilih sebagai Presiden Mahasiswa BEM KM IPB, puncak kepemimpinan organisasi kemahasiswaan  kampus. Hal inilah yang kemudian membawanya ke dalam dinamika perubahan sosial dalam skala nasional, sehingga di tahun yang sama dirinya didaulat sebagai Presidium BEM se Jabodetabek. Dengan posisi ini, ia  secara maksimal menyuarakan pembelaan terhadap kepentingan masyarakat dan advokasi terhadap kondisi ketidakadilan yang terjadi.

Selain amanah tersebut di atas, masih banyak jejak langkah organisasi dan kemahasiswaan yang diembannya. Tahun 2000-2001, ia didaulat menjadi  Ketua Umum BEM Fakultas Kehutanan IPB dan Ketua Pengurus Cabang Sylva Indonesia IPB. Sebelumnya, sosok yang senang menulis ini tercatat sebagai Sekretaris Umum BEM Fakultas Kehutanan IPB  (1999-2000), Pjs. Ketua FMSC-Forest Management Students Club (1999), Sekretaris Umum University Network For Free and Fair Election IPB (1998 – 1999), Staff of  Planning &  Research Department of International Forestry Students Association (IFSA) (1998– 1999), Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Banyuwangi  wilayah Jabotabek (1998-1999), Sekretaris Umum KODAM WANGI (Komando Mahasiswa Peduli Banyuwangi) (1998-1999), dan Biro PSDM DKM Ibaadurrahmaan Fakultas Kehutanan IPB (1998-1999).

Sebagai representasi mahasiswa yang peduli dengan isu-isu sosial dan pembangunan, beberapa stasiun televisi pernah mengundangnya sebagai narasumber, seperti dalam acara Pro dan Kontra TPI pada bulan Agustus 2002 dengan tema : Amandemen UUD 1945 bersama Pramono Anung (PDIP), Ali Masykur Musa (PKB), dan A.M. Fatwa (PAN). Kemudian TVRI pada bulan September pernah mengundangnya juga sebagai salah satu narasumber dalam Diskusi Mingguan TVRI yang membahas Kebijakan Pembangunan Pertanian bersama Prof. Dr. Amman Wirakartakusumah (Rektor IPB), Dr. Rokhmin Dahuri (Menteri Kelautan dan Perikanan), dan Ir. Sinis Munandar (Direktur SDM Deptan RI).

Sifat Jawa Timur-an, yang terbuka dan bernas dalam pergaulan, dengan mudah ditemukan pada sosok yang pernah menyabet Juara I Lomba Takbir Beregu SMUN I dan Juara III Liga Sepak Bola SMA. Karena kesupelan dan luasnya pergaulan,  pasca lulus dari kampus, sosok penggemar nasi pecel dan sate kambing ini dipercaya sebagai Ketua Umum Gema Keadilan Kota Bogor (2012-2013), Pengurus DPP Himpunan Alumni IPB (2009-2013), Sekjen Gema Keadilan Kota Bogor (2008-2011), Direktur sekaligus pendiri Cendekia Muda Bogor  (2004-2009),      dan pendiri Komunitas Peduli Lingkungan Bogor (2003-2005).

Sebagai orang yang meyakini bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah perbuatan berdimensi sosial,  yang dampaknya akan dirasakan masyarakat luas, Atang berusaha mengupayakan segala potensi yang dimilikinya dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar  dengan memanfaatkan berbagai cara, seperti menuangkan gagasan dan pemikirannya melalui media dan forum-forum diskusi. Beberapa kali tulisannya terlihat di surat kabar Radar Bogor dan Republika dalam kurun waktu 2002-2008.

Tahun 2013, selain menulis buku Pangan Nusantara dan Kemandirian Bangsa, Anggota Majelis Wali Amanah IPB periode 2001-2002 ini juga menulis buku Perencanaan Pertanian Berbasis Produktivitas Pangan dan Kesejahteraan Petani.

Selain aktivitas menulis, aktivis kampus pada masanya ini juga sering mengisi acara kajian, seminar, diskusi, dan pelatihan-pelatihan organisasi dan kepemimpinan. Sebelum lulus kuliah, ayah dari empat anak ini berusaha mengurangi beban ekonomi orang tuanya dengan menjadi trainer manajemen dan kepemimpinan. Bahkan, sebelum di wisuda, ia menjadi  asisten manajer di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang agroindustri di awal tahun 2003 sampai akhir 2004.

Pengalaman masa kecil, pendidikan keluarga, dan perjuangan saat mahasiswa, mendorongnya untuk menjadi seorang aktivis yang total.

Jalan hidup mempertemukan Atang dengan seorang, aktivis masjid, Primanita Sukma yang kemudian dinikahinya pada Juni 2004. Dan perempuan lembut asal Sukabumi, yang juga alumni FMIPA IPB Angkatan 1999 ini melahirkan  Salma Fathya Kamilah (2005), Farah Asma Mufidah (2007), Umar Shidiq Asadullah (2009), dan Muhammad Fatih Abdurrahman (2013).

Kematangannya dalam berorganisasi dan pengalamannya dalam bidang kemasyarakatan, pertanian, dan kehutanan membawanya sebagai Tenaga Ahli Anggota Komisi IV DPR RI, yang membidangi masalah pangan, pertanian, perikanan, kelautan, dan kehutanan. Statusnya sebagai Tenaga Ahli membuatnya dapat total dalam memberikan kontribusi isu-isu pertanian dan kehutanan.

Rekam jejak dan dedikasi kerja yang baik selama menjalankan tugas sebagai Tenaga  Ahli  Anggota Komisi IV DPR kemudian mengantarkan dirinya kepada tugas yang jauh lebih berat. Tahun 2009, ketika usianya memasuki 31 tahun, dia dipercaya sebagai Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI Bidang Pelayanan Publik.

Putra Banyuwangi, yang lahir dari rahim petani ini pun makin giat memberikan kontribusi untuk peningkatan kesejahteraan petani dan pertanian Indonesia. Berbagai pemikiran dan kontribusi nyata dalam membangun kegiatan pemberdayaan petani dan pembangunan ekonomi pedesaan dia lakukan melalui optimalisasi kegiatan penguatan modal usaha, peningkatan keahlian dan teknologi petani melalui pelatihan, advokasi permasalahan petani, dan berbagai program pemberdayaan petani lainnya. Tidak sedikit pemikiran yang ia kontribusikan dalam pembahasan beberapa RUU dan Peraturan Menteri Pertanian, seperti RUU tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Pada Februari 2015, kawan-kawan sesama mantan aktivis mahasiswa di kampus IPB memberikannya amanah sebagai Direktur Eksekutif NAFIS (National Food Security Studies), lembaga kajian ketahanan pangan yang menjadi wadah meneruskan idealitas para mantan aktivis kampus IPB. Di kegiatan kemasyarakatan, ia juga aktif sebagai relawan di Komunitas Indonesia Berseri yang konsern pada bidang community development  dan Sekretaris Yayasan Pendidikan Ummul Quro Bogor yang konsern dalam bidang pendidikan dari TK, SD, SMP, sampai dengan SMA

Apa yang telah ia perjuangkan dan didedikasikan, serta berbagai  tugas-tugas dan amanah yang diembannya, ia harapkan dapat memberikan sedikit kontribusi dalam program swasembada pangan, sehingga petani dapat  menikmati jerih payahnya dengan meningkat kesejahteraannya.

Baginya, menjadi siapa pun dan di mana pun merupakan media pengabdian kepada Allah SWT dan sekaligus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk masyarakat, bangsa, dan Negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *