Paradoks Surplus Beras

Senyum anak tani Indonesia
Senyum anak tani Indonesia

Senyum anak-anak petani, senyum riang penuh harapan, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di sekitar mereka. Senyuman yang sama barangkali juga dirasakan orang tua mereka tatkala Pemerintah mem-publish surplus beras 4 juta ton di tahun 2015 ini. Seakan menghapus rasa duka saat keputusan impor beras diambil beberapa waktu sebelumnya, surplus beras ini pun kembali men’catat’kan keberhasilan Pemerintah. Agak aneh memang, di saat surplus beras sedemikian besarnya, Pemerintah juga mengimpor beras dalam jumlah cukup besar .

Kenangan situasi perberasan yang sulit tentu tak akan hilang dari sejarah republik ini saat di awal tahun 2015 lalu harga beras melambung sangat tinggi. Pasokan beras di Pasar Induk Cipinang – barometer pasar beras nasional – mengalami penurunan yang signifikan. Namun, di sisi lain data produksi di berbagai sentra padi tidak mengalami masalah yang berarti. Hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Masalahnya, harga kemudian melambung sedemikian tingginya.

Kekhawatiran akan diambilnya kebijakan impor beras ini sebenarnya sudah diprediksi banyak kalangan. Dalam artikel sebelumnya, Penulis sendiri sempat memprediksi akan adanya ujian yang cukup berat sektor pangan, saat peringatan akan lanjutnya el-nino semakin menguat. Namun, kepercayaan yang tinggi dari kalangan pemangku kebijakan pertanian membuat kita sedikit banyak masih tetap optimis.

Hanya saja, di penghujung tahun 2015 ini kita kembali dihadapkan pada kondisi yang paradoks antara data surplus beras yang dibanggakan pemerintah dan keputusan impor yang juga diambil oleh pemerintah. Seakan mengulang kebijakan-kebijakan sebelumnya, paradoks surplus beras inipun seakan menjadi tontonan rutin tiap tahun, dari pemerintahan satu ke pemerintahan yang lain. Dan pemainnya pun sama. Kementerian pertanian keukeuh dengan datanya untuk tidak impor beras, sedangkan pemangku kebijakan yang lain keukeuh untuk impor beras dengan alasan stok di Bulog menipis.

Masalah tahunan ini harus segera diputus ceritanya. Harus ada ending yang tepat. Dan saat inilah momentumnya. Apakah permasalahannya ada pada data produksi dan konsumsi sehingga asumsi yang diambil salah. Atau data sudah mendekati kepada realitas yang sebenarnya, namun aliran dari lini produksi ke pasar yang tidak sehat. Dengan kekuatan sumber daya yang dimiliki, harusnya masalah ini bisa diselesaikan segera.

Semoga masalah paradoks yang tidak lucu ini segera berakhir. Ibarat peribahasa gajah lawan gajah, pelanduk mati ditengah-tengah, pasti rakyat kecil yang menjadi korban. Dan rakyat kecil itu adalah petani dan buruh tani. Kita rindu akan senyum lepas anak-anak tani itu… hingga ia dewasa. Tidak seperti sekarang, senyum itu hanya tersungging ketika mereka masih kanak-kanak karena riangnya dunia mereka, lantas menghilang ketika beranjak remaja. Jangan sampai dunia semakin mundur… dari kecil pun, sudah sulit menemukan senyum di wajah mereka…

One thought on “Paradoks Surplus Beras”

  1. Namun, surplus beras ini dipertanyakan oleh analis kemiskinan Bank Dunia , Maria Monica Wihardja. Menurut lembaga tersebut, apabila produksi beras surplus, harga beras seharusnya bisa stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *