Apa Kabar Gerakan Mahasiswa?

Oleh : Atang Trisnanto

Aksi Mahasiswa Berjaket Biru
Aksi Mahasiswa Berjaket Biru

Begitu semangatnya gerak anak muda yang berjaket warna warni itu di tengah panasnya jalanan ibukota. Dalam kepala yang berisi idealisme dan intelektualitas tinggi itu, energi yang mereka miliki seakan tak pernah habis. Jaket yang mulai lusuh dan beraroma tetesan peluh pun seakan menjadi bahan bakar yang terus terbarukan bagi gerak-gerak langkah mereka.  Itulah energi #Gerakan Mahasiswa.

Sekian tahun telah berselang, tujuh belas tahun, lima belas tahun, bahkan sepuluh tahun berselang, suara-suara itu mulai meluruh dalam senyap. Seharusnya, tidak ada alasan bagi berhentinya gerakan anak muda dari tahun ke tahun di masa-masa berikutnya. Setiap masa tentu masih meninggalkan adanya kedzaliman, ketidakadilan kebijakan, dan berbagai model abuse of power lainnya. Dan seharusnya, #Gerakan Mahasiswa itu harus tetap ada.

Lantas, dimana suara para pemimpin masa depan itu tatkala melihat ketidakadilan kebijakan masih terjadi? Dimana pembelaan mahasiswa saat BBM dinaikkan dan telah menaikkan berbagai harga kebutuhan masyarakat? Dimana hati-hati muda itu berlabuh tatkala berbagai kebutuhan dasar masyarakat dinaikkan oleh Pemerintah? Kenaikan harga tarif listrik, tarif penumpang kereta api kelas ekonomi, tarif gas, tarif tol, dan rencana-rencana kenaikan harga lainnya yang akan diambil Pemerintah seakan menjadi kado istimewa dari pemimpin yang diidolakan oleh rakyatnya. Dimana singa-singa jalanan itu saat Pemerintah terkesan menampung orang-orang bermasalah dalam posisi penting di negeri ini? Dimana #Gerakan Mahasiswa itu kini?

Akankah jaket yang dulu lusuh penuh peluh itu, saat ini telah kering dan berganti aroma wangi Bulgari ataupun MontBlanc dan Armani, karena sering dipakai dalam forum-forum seminar, gathering, dan pentas musik masa kini?

Ketidakadilan Kebijakan

Fakta bahwa masih banyak masyarakat yang masuk dalam kategori miskin, balita kurang gizi, warga sakit tidak mampu berobat, pelajar putus sekolah, dan ketidakmampuan keluarga kecil yang tak mampu membeli kebutuhan dasar karena kenaikan harga setelah kenaikan BBM rasa-rasanya masih banyak dijumpai di negeri kepulauan ini. Deflasi yang terjadi pada bulan Januari-Februari 2015 ini lebih disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat. Di sisi lain, terpuruknya rupiah hingga 20% lebih rendah dari nilai awal membuat berbagai harga barang juga melonjak tajam. Dan fakta ini, sangat memberatkan kehidupan masyarakat banyak.

Sebaliknya, kita masih melihat adanya kebijakan penempatan orang yang bermasalah pada posisi kunci, bagi-bagi kekuasaan politik dagang sapi, proyek mobil nasional yang justru menggunakan mobnas negara tetangga, tidak diusutnya kasus-kasus besar seperti BLBI yang telah memiskinkan negara ini, keluarnya beberapa keputusan Menteri yang membuka peluang importasi lebih besar terhadap barang-barang yang bisa dihasilkan sendiri di dalam negeri, serta berbagai kebijakan lain yang sungguh telah melukai perasaan keadilan rakyat, masih kasat mata dipertontonkan di negeri maritim dan agraris ini.

Di sisi lain hukum tajam dan tegas terhadap rakyat kecil dan lawan politik, di sisi lain hukum itu tumpul terhadap ”orang-orang besar” dan orang-orang yang telah ”berjasa”. Bagaimana dengan perlakuan Pemerintah terhadap penikmat dana ratusan triliun BLBI yang telah diampuni dengan keluarnya surat release & discharge tahun 2002? Kalau saja dana negara yang mereka nikmati dikembalikan, tentunya dapat digunakan untuk membantu rakyat kebanyakan yang masih susah. Hal ini pula yang perlu kita pertanyakan pada pemerintahan sekarang. Kepada siapa harapan untuk terus menyuarakan suara itu kita gantungkan?

Mahasiswa, Dimana Kini?

Beberapa waktu yang lalu, hati ini serasa disiram air telaga tatkala mendengar anak-anak muda mahasiswa itu kembali turun ke jalan. Itu sekali, saat KPK berurusan dengan kepolisian. Meskipun sedikit, setidaknya mereka masih ada. Namun, jiwa ini kembali resah tatkala suara-suara itu mulai meredup lagi. Suara #Gerakan Mahasiswa itupun tampak meluruh kembali.

Kenapa untuk masalah yang substantif membebani rakyat seperti kenaikan harga-harga barang justru tidak keluar suara perlawanannya? Akankah nurani keberpihakan terhadap penderitaan dan suara kesusahan masyarakat termarjinalkan itu sudah menghilang dan tak ada jejaknya saat ini?

Saya masih yakin bahwa secuil nurani dan semangat muda untuk melakukan pembelaan terhadap kaum tertindas dan melakukan perlawanan terhadap kedzaliman itu masih bersemayam pada jiwa-jiwa pemuda. Yang perlu diperbaiki saat ini adalah, anak-anak muda ini harus mulai dijauhkan dari kegilaannya terhadap gadget dan tekhnologi, menepikan kegiatan hura-hura dan seremoni basi, dan mengenalkannya pada dunia nyata kaum papa. Semoga #Gerakan Mahasiswa itu segera terlahir kembali.

Kepada para mahasiswa… Yang merindukan kejayaan……..                   Kepada rakyat yang kebingungan… Di persimpangan jalan…..

Kepada pewaris peradaban…. Yang telah menggoreskan…….                   Sebuah catatan kebanggaan….. Di lembar sejarah manusia….

Wahai kalian yang rindu kemenangan…..                                                    Wahai kalian yang turun ke jalan….  Demi mempersembahkan jiwa dan raga…..Untuk negeri tercinta…… Untuk negeri tercinta……

Hari itu, ribuan mahasiswa dan pemuda berjalan dengan warna warni baju almamaternya. Jaket mereka lusuh dan tidak wangi lagi. Namun, langkah-langkah mereka mewangi dalam catatan peradaban. Lantas, kudengar teriakan singa-singa nusantara : Merdeka !! Hidup mahasiswa !! Hidup rakyat Indonesia !! Hidup reformasi !!”…… Ah… sungguh rindu diriku terhadap suara-suara itu…..

Salam perjuangan

2 thoughts on “Apa Kabar Gerakan Mahasiswa?”

  1. mas atang, boleh minta kontaknya nggak? Kita mau undang mas atang untuk jadi pemateri di acara Sekolah Pergerakan di kampus STT PLN Jakarta mas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *