Jiwa Aktivis Itu (Harusnya) Tak Pernah Mati

Oleh : Atang Trisnanto

Pemira
Debat Capresma IPB, medio 2001

Banyak diantara kita yang dulunya adalah anak muda dengan aktivitas yang tinggi. Ada aktivis kampus, aktivis sosial, aktivis pendidikan, aktivis masjid, aktivis ormas, dan berbagai aktivitas lainnya. Pada satu fase kehidupan berikutnya, kita bisa jadi tak bersinggungan lagi dengan dunia aktivitas yang pernah kita geluti sebelumnya. Lambat laun, aktivitas sosial dan kemanusiaan mulai terkurangi porsi waktunya. Sedikit demi sedikit, pekerjaan dan keprofesian kita mengambil aktivitas-aktivitas tersebut  dari waktu ke waktu. Namun, hilangkah jiwa-jiwa pergerakan itu dalam diri kita?

Cobalah kita tengok dunia diluar kita. Pohon pisang akan tetap tumbuh sampai menghasilkan buah terbaiknya. Tak peduli dipotong ataupun ditebang, pohon pisang akan terus tumbuh. Begitu juga dengan air. Air tidak akan pernah diam menggenang dalam suatu tempat. Dia akan senantiasa bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Terus dan terus bergerak.

Banyak fenomena alam dan kehidupan yang mengajarkan kepada kita tentang arti sebuah perjuangan yang tak kenal henti. Sebuah pengabdian yang terus dipersembahkan, hingga pengabdian itupun memberikan buah manfaat yang terwujud. Air dan pohon pisang diatas hanyalah dua contoh dari sekian banyak hikmah, yang masih banyak di sekitar alam kita, fenomena-fenomena sejenis yang Allah ciptakan di alam jagad raya.

Antara Hidup dan Mati

Ada satu istilah menggelitik yang disampaikan adik kelas saya ketika masih sama-sama aktif di dunia gerakan mahasiswa. Saat itu saya mengatakan bahwa sebagai hamba Allah, kita harus senantiasa bergerak dan memberikan karya untuk peradaban ini, karena Allah telah memberikan kesempatan hidup buat kita. Dia yang kuliah di jurusan Biologi itu lalu menambahkan teori bahwa salah satu ciri makhluk hidup itu adalah bergerak. Karena, jika makhluk tersebut tidak bergerak, itu sebagai tanda bahwa ia telah mati. Sebuah analogi yang langsung menusuk ke jantung.

Hidup, Mati. Dua paradoks dalam kehidupan. Dan keduanya niscaya hadir dalam kehidupan kita. Hidup serasa mati kalau kita masih hidup namun tidak melakukan gerakan untuk terus berkontribusi. Dalam kata lain, kita mati secara humanity.  Orang-orang yang dalam hidupnya senantiasa beraktivitas kebaikan, mengisi detik-detik hidupnya dengan kerja-kerja produktif untuk tegaknya kebenaran dan keadilan, yang jiwanya selalu terpanggil untuk berbuat sesuatu yang terbaik untuk negaranya, niscaya dirinya tidak akan pernah mati. Lantas, masih “hidupkah” kita?

Aktivis, Dimana Jiwamu Kini?

Sebelum meninggalkan dunia kampus, seorang dosen senior dari Kebumen memberikan pesan khusus kepada saya. “Saya tunggu kamu untuk terus memberikan kontribusi terbaik di dunia nyata. Jangan berhenti. Saya pernah mahasiswa, dan saya juga pernah aktif dalam pergerakan mahasiswa di HMI. Hingga saya menjadi tua seperti sekarang, satu yang saya rasakan, bahwa jiwa aktivis itu tidak pernah mati”.

Beberapa waktu belakangan ini, saya kembali teringat dengan pesan beliau. Kawan-kawan sesama aktivis jalanan mengajak berkumpul kembali untuk melanjutkan satu cita yang belum tertuntaskan. Membangun kembali idealisme dalam tataran kehidupan nyata. Terus memberikan waktu dan pikiran serta tenaga mereka untuk kejayaan negerinya. Mereka punya tekad kuat untuk memberikan yang terbaik. Kembali dada ini membuncah, teringat sebuah kata yang sungguh dalam maknanya, aktivis itu tidak pernah mati. Betul, jiwa aktivis itu (seharusnya) tidak pernah mati. Dan mudah-mudahan, jiwa itu tak pernah mati dalam diri kami….

Bagaimana dengan para aktivis yang lain? Aktivis yang dulu ataupun yang sekarang? Ah…. Sungguh rindu diriku terhadap jiwa-jiwa itu….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *